Beli Property Tanpa Uang

7 Prinsip  Membeli Properti

7 Prinsip  Membeli Properti

1. Untung Pada Saat Mmebeli
Properti hampir selalu mengalami kenaikan setiap tahunnya, kebanyakan dari Anda membeli Properti mengharapkan keuntungan dikemudian hari (tahun depan dan seterusnya). Padahal kita bisa mendapatkan keuntungan dari Properti justru pada transaksi.

Bagaimana, koq bisa? Iya, kita membeli Properti dengan kondisi harga belinya di bawah harga pasar. Apakah ini memungkinkan? Sangat mungkin, banyak sekali properti yang dijual di bawah harga pasar karena penjual sangat butuh uang.
Ada banyak motivasi orang menjual Properti di bawah harga pasar (under value), diantaranya:

- BU CPT (Butuh Uang Cepat), pada saat menjelang pemilu misalnya, banyak orang menjual properti karena butuh uang cepat untuk membiayai kampanye. Kepepet hutang, sakit, dsb.
- Bagi Waris, orang bagi waris cenderung menjual properti-nya di bawah harga pasar.

- Harta Gono Gini, seorang sahabat saya di Malang membeli rumah gono gini seharga 1 Milyar, padahal nilai appraisalnya 2 Milyar lebih. Orang cenderung menjual harta gono gini di bawah harga pasar.

2. Cintailah Transaksinya, Jangan Propertinya
Jangan membeli Properti karena Anda sangat menyukai Properti-nya. Tidak ada yang salah ketika Anda membeli Properti karena Anda suka sama Properti-nya, apalagi kalau untuk ditinggali. Tapi sebagai investor Properti akan jauh lebih baik membeli Properti berdasarkan keuntungan finansial, belilah properti dengan mempertimbangkan untung dan ruginya secara financial, hilangkan perasaan SUKA dan TIDAK SUKA. Gunakanlah prinsip-prinsip di bawah ini:
- Apakah Properti yang dibeli mempunyai prospek yang bagus?
- Apakah Properti tersebut menghasilkan arus kas positif?
- Bagaimana pertumbuhan properti di daerah tersebut?

Seorang teman saya merenovasi rumahnya menjadi cukup mewah, padahal ia tinggal disebuah perumahan sederhana. Rumahnya menjadi sangat mencolok dilinkungan tersebut, ia menghabiskan
kurang lebih 200jt untuk merenovasi rumah tersebut. Sehingga total uang yang telah ia keluarkan untuk rumah tersebut sekitar 250jt (ia membelinya sekitar 50jt). Ia telah menempati rumah tersebut selama hampir 10 tahun. Tahun lalu ia menjual rumahnya senilai Rp 300jt. Hmm
Anda bisa bayangkan selama 10 tahun kenaikan rumah tersebut hanya 50jt !!!, padahal disaat yang hampir bersamaan rumah saya terjual hampir 3 kali lipat. Kenapa?

Bentuk dan disain rumah tidak otomatis akan meningkatkan harga rumah apalagi kalau rumah tersebut tidak berada dilokasi yang tepat.
Kalau diperhatikan kasus tersebut, rumah itu berada dilingkungan yang kurang tepat, dimana daya belinya tidak sampai setinggi itu.
Kalaupun ada orang yang mempunyai uang sebanyak itu, biasanya ia akan memilih lingkungan dengan tingkat perekonomian yang sesuai.

3. Beli Sekarung Jual Kiloan
Sama serperti bisnis lainnya, kita bisa membeli properti dalam jumlah besar (luas) kemudian kita kavling-kavling dan dijual pada harga yang lebih tinggi. Cara ini pun bisa dengan modal yang sangat minim atau bahkan tanpa modal.

4. Berhutang Sebagai Pengungkit
BODOL kalau kata guru saya Purdi E Chandra, Berani Optimis Duit Orang Lain. Dalam hal ini dengan menggunakan Uang Bank atau keringanan (hutang) pada pemilik properti seperti pada kisah yang, dimuat pada link di atas. Bahkan dengan uang bank kita dapat membeli properti tanpa uang sendiri serupiahpun.

Kebanyakan orang takut untuk berhutang dengan bank dan mereka datang ke bank hanya untuk menabung saja, padahal hidup matinya bank bukan dari berapa banyak anda menabung tetapi berapa
banyak anda berhutang..

5. Jangan Jadi Follower
Saat ini di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Surabaya dsb, banyak sekali orang antri beli “gambar” apartment murah atau Rusunami. Sebagian besar dari mereka membeli sesungguhnya lebih
karena alasan investasi ikut-ikutan. Ini merupakan kesalahan besar, kenapa? Karena salah satu kunci sukses dibisnis properti adalah tidak ikut-ikutan membeli properti.

Seharusnya strategi dalam membeli properti adalah menunggu orang lain menjual dan menunggu kesempatan baik dalam menjual saat orang lain membeli. Strategi ini membutuhkan motivasi kuat pada diri Anda untuk tidak sekedar ikut-ikutan tanpa menganalisa kondisi properti.

6. Jangan Jual Properti Anda Kecuali Anda Jual Beli Properti
Sebelum waktunya, jangan jual properti Anda atau Anda akan menyesal karenanya. Tapi, jika anda memang berniat untuk berbisnis properti (jual beli) melakukannya dengan teknik tertentu dengan
meningkatkan nilai properti-nya.

7. Belilah Properti Yang Menghasilkan Arus Kas (cash Flow)
Untuk mendapatkan Properti yang menghasilkan arus kas, Anda harus mencari Properti yang sudah atau akan ada penyewanya atau ada bisnisnya…

Properti yang bagimana yang sesuai dengan kriteria diatas ? (properti dengan harga dibawah pasar dan memiliki arus kas yang bisa menutup angsuran bank):
a) Rumah Sewaan (terutam sewaan orang asing)
b) Apartemen (khususnya yang sudah ada penyewanya)
c) Kos-kosan yang sudah bejalan dan sudah ada penyewanya
d) Gedung Komersial yang sudah berjalan dan ada penyewanya
e) Rumah yang ada bisnisnya

Mungkin anda akan menyangkal informasi yang saya sampaikan di atas. Bagaimana mungkin mendapatkan rumah sewaan dengan penghasilan yang dapat menutupi angsuran bank, sementara ratarata harga sewa rumah hanya 5-10% per tahun dari harga pasar, sedangkan suku bunga pinjaman bank diatas 10% per tahun ?”
Share on Google Plus

About Muhammad Ismail

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Post a Comment