7 Hari jadi Juragan (nagian 2)

Hari ke 2 Ciptakan The Power of Kepepet

Kalau  cara  lama, membuat  perencanaan, baru  eksekusi. Biasanya, ‘mbahnya alasan’ akan berdalih untuk melakukan penundaan. Dari alasan belum sempurna, nanti-nanti, hingga alasan ‘kucing’ sakit. Kenapa begitu? Karena tidak ada tanggal yang pasti kapan akan mulai..!

Buat target dulu, baru rencana..

Tentukan dahulu:
• Kapan Target buka usaha; tanggal, bulan, tahun.
• Dimana ancer-ancer lokasinya (jika buka outlet).
• Apa hukumannya jika tidak mulai?
• Umumkan via social media, radio atau koran.

Contoh:
7 Hari jadi Juragan
Langsung dijamin pecicilan,ngebut merealisasikan target.
“Setelah itu apa yang harus saya lakukan Mas J?” >> Percaya saya, Anda akan lebih cerdas dari yang Anda pikirkan kalo sudah kepepet. Sebaiknya tenggang waktu yang diberikan untuk target buka, jangan lebih dari 1 bulan. Karena jika terlalu lama, momentumnya akan hilang.

Masih belum cukup..
Kebiasaan mereka yang belum punya usaha biasanya berandai dan berfikir urut.
“Iya kalau lancar, kalau gak..?”
“Jangan-jangan ketipu lagi..”
“Trus kalau kita bangkrut gimana?”
“Nanti dia ingkar janji, kita yang rugi donk..
Boleh saja berandai, tapi mbok ya jangan yang negatif saja, coba yang positif juga.
“Iya kalau macet, kalau dibayar lancar, kita bisa kelebihan duit nih..!”
“Jangan-jangan dia lebih baik dari apa yang kita harapkan.”
“Trus kalau kita kaya raya, untung miliaran perbulan, repot juga ngabisinnya.”
“Apapun yang terjadi, kita gak akan pernah rugi. Karena untung pengalaman, ketrampilan, kredibilitas..”

Kasih DP
Lepas dari hukumnya, sebenarnya hutang (bisnis) itu adalah salah satu motivasi terbesar seorang pengusaha. Dalam kondisi nyaman, kita sering terlena. Saat kita bangkrut dan meninggalkan setumpuk tagihan, baru otak kita lebih cerdas dari sebelumnya. Tentu saja ada dosisnya dan tetap menjaga kredibilitas.

Ada jalan tengah yang bisa diambil untuk membuat Anda lebih kepepet, yaitu memberi uang muka (DP) untuk sewa tempat, pembelian barang, renovasi dan lainnya. Jadi tak ada alasan lagi bagi Anda untuk mundur atau menunda. Setelah itu yang terngiang di benak adalah "Bagaimana harus bisa..?!!", bukan lagi "Bisa gak yaa..??". Jangan ‘jiper’ dulu donk. DP itu gak harus gedhe lho. 100 ribu juga DP, asal empunya mau terima aja. Berani terima tantangan DP..?

Hari ke3 Gak Harus Urut

Berfikir sistematis kadang tak baik untuk seorang calon pengusaha, serupa dengan berpikir linier. Misalnya kalau mau buka usaha harus survei pasar, membuat business plan, mencari modal dan harus tersedia semua. Itulah racunnya calon pengusaha. Itu  juga  alasan  kenapa  yang  gak  jagoan  di  sekolah, berhasil  jadi
jagoan di lapangan. Karena mereka tak berfikir urut. Apa yang di depan mata bisa dikerjakan dahulu, hajar bleh.

Anda bisa mulai dari membuat kartu nama, iklan promosi di media, meski usaha Anda belum buka. Trus kalau orang mau pesan gimana? Ya kalau belum ada, tinggal bilang "Gak ada stok Pak" >> bener kan, gak bohong?!! Setidaknya Anda bertambah semangat, karena ternyata permintaannya sudah banyak, WoW..!!
C oba  perhatikan  toko-toko  hape, biasanya terpajang banyak karduskardus hape. Emang ada  stoknya? Kebanyakan gak ada. Coba aja tanya ke  mereka, "Yang  itu  ada  stoknya g ak?". Ntar  mereka  jawab, "Ada di gudang.." >> gudang temennya. Atau jawabnya begini, "Lagi kosong M as.." >> emang  dari  dulu  gak pernah isi, he he he..

S aat  buka  usaha  pertama  kali, saya  hanya  bermodal  kartu  nama 'CV' saja. Kemudian keliling naik ojek ke lingkungan industri memperkenalkan diri sebagai supplier spare part mesin industri (saya juga tak punya stoknya). Setiap ditanya, "Ada barang seperti ini gak?". Saya jawab, "In syaa Allaah ada..!" >> dengan asumsi barang itu cukup pasaran (ada merek dan kode produk yang jelas) dan dibuat oleh manusia, bukan jin. Bill Gates saja 'nyeplos' DOS di depan IBM, padahal dia belum punya programmnya koq. (baca kisahnya di The Power of Kepepet)

Memang belum tentu semudah itu. Saat itu saya juga ditolak berkali-kali dahulu, sebelum  saya  menemukan  jalan  yang  lain. Setelah  gagal  masuk  lewat ‘pintu d epan’, saya  masuk  lewat ‘pintu  samping’. Di  lingkungan  industri, populasi cowok sangat sedikit dan rata-rata engineer. Karena saya gagal masuk menemui bagian pembelian, saya mencoba masuk melalui engineer sebagai end user-nya.

Dimana mereka biasa berkumpul? Aha, saat makan siang di pujasera. Ciri-ciri engineer, laki-laki, pakaian agak jorok (dibanding staf kantoran), ada test pen di saku mereka. Nah, saya datangi saat mereka makan, pura-pura minta ijin 1 meja.

Setelah basa-basi, kenalan, biasanya mereka bilang, “Wah, kita perlu lho spare part seperti itu. Siang nanti datang aja, saya kenalkan ke bagian pembelian..”. Asik asik.. indahnya praktik..

Bersambung
Share on Google Plus

About Muhammad Ismail

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Post a Comment